Dua Kepahitan yang Kupertahankan
Oleh: Aidi Kamil Baihaki
Entah berapa purnama telah menjelang. Walau waktu masih tertata berbaris rapi, tapi aku tak mau menghitung.
Adalah hal bodoh jika kita menghitung-hitung sengsara. Tentu saja, karena itu akan berpengaruh pada kualitas syukur yang semestinya lebih banyak kita lakukan.
Pagi ini pun kubuka mata bersamaan dengan mendesiskan ucapan rutin, “Terima kasih Tuhan!” Berkat anugerahNya yang telah memberiku rasa.
Rasa pada lidahku dan rasa pada hatiku.
Rasa pada lidahku, yang jika itu hilang maka mungkin aku telah mengidap suatu penyakit karena virus.
Maka selama kita masih bisa mencicip rasa melalui indera pengecap ini, selama itu pula kita patut untuk mensyukuri kesehatan. Apalagi akhir-akhir ini, mati rasa adalah salah satu gejala terjangkit Covid’19.
Tak perlu kupilah rasa mana yang harus disyukuri dan rasa mana yang tidak perlu disyukuri.
Sama saja!
Begitu pula kopi pahit pagi ini, tetap harus kusyukuri kepahitannya.
Kemudian rasa pada hatiku… Rasa ini cenderung selalu subjektif, tergantung standar dan nilai setiap orang, yang jika itu mati maka hilanglah kemanusiawian kita.
Rasa itu mengendap dalam batin. Meskipun tercermin pada raut wajah dan pembawaan, tapi bukan hal mudah untuk menebaknya dengan benar.
Seperti timbulnya perasaan ketika mengingat kenangan tentangmu, kadang menerbitkan kulum senyum di kedua bibirku. Tapi kadang juga menjadi muasal luruhnya embun bening di kelopak mata.
Kenangan tentangmu tak pernah susut dari ingatan. Memenjara olah pikir. Derita yang tak kan bisa menjadi bahan untuk berbagi. Tersembunyi dan tak akan orang lain tahu.
Kau dan kopi pagi adalah dua hal yang berbeda, tetapi menjadi satu dalam manfaat menawar kegelisahan.
Kopi pahit dan panas yang kuteguk sebelum menjadi dingin, untuk mengusir kebekuan semalaman. Ketika tidurku tak disapa mimpi tentangmu. Padahal Tuhan tahu, aku sangat merindukanmu.
Rupanya Dia ingin rindu ini terus membara dan mengasap. Membumbung menjadi tanda SOS, sehingga kau bisa melihatnya dari kejauhan. Menyadarkanmu bahwa kondisi sedang benar-benar darurat.
Kau dan kopi pagi… adalah dua hal yang sama dalam hal menawar kegelisahan, tapi berbeda dalam cara menyingkirkannya.
Kau, dengan hanya sekelebat bayangan, mampu membangkitkan semangatku yang nyaris lumpuh. Menyeruakkan inspirasi yang terpendam dalam sunyi. Kau adalah satu titik di peta yang menjadi akhir semua percabangan jalan yang kulewati.
Nyatanya sakit memang, menyadari bahwa ujung jalan ini ternyata berbeda arah dengan jalan yang kau lalui.
Perih memang, saat harus memilih tanpa banyak pilihan. Kau dan Aku merawat cinta dalam kenangan. “Jangan kau kenang aku karena itu pahit!” Ujarmu.
Sejatinya kau tidak tahu bahwa kepahitan kopi ini cukup untuk menjadi pembanding bahwa kepahitan tentangmu hanya dalam rasa maya.
Tak nyata!
Dengan kopi ini aku menjaga kesadaran bahwa kepahitan itu benar-benar ada.
Percayalah, pahit kenangan tentangmu, tak seberapa pahit dibanding kopi pagiku.
Tapi, sebenarnya... Kau dan Kopi pagiku, keduanya memang sama-sama pahit. Dan keduanya sama-sama bisa kunikmati.
Meski aku tahu, dengan gula dapat sedikit menawar kepahitan kopi ini, tapi aku tak akan mencampurkannya. Biarlah ia tetap pahit. Dengan begitu aku akan terus gagal untuk menyimpulkan bahwa kenyataan tentangmu adalah hal yang paling pahit.
Suatu saat, bila aku muak dengan pahitnya kopi ini, tinggal kuseduh dengan dua sendok gula. Mudah sekali.
Tapi kemudahan macam apa yang bisa kulakukan untuk membuang pahitnya kenyataan berjauhan denganmu?
Maka... Biarlah kopiku tetap selalu pahit. Toh, yang kubutuhkan hanyalah kehangatannya. Zat Kafeinnya kan mengaduk aliran darahku sampai menguap. Konon, ia berkhasit mencegah demensia dan membantu daya ingat. Dengan begitu aku bisa terus mengingatmu tanpa batas waktu.
Kafeinnya mencetus peningkatan dopamin, memenuhi setiap inci syarafku, efektif mengatasi depresi. Memberikan kesempatan pada hatiku untuk tetap dalam ketenangan.
Tenang dalam merawat kepercayaan, walaupun kau tak pernah memberikan janji untuk kembali. Hingga kelak aku benar-benar dipaksa menyadari kenyataan _bahwa memang terkadang cinta tak harus memiliki.
Komentar
Posting Komentar