Postingan

Ujian Tengah Semester

UTS Semester genap sudah di depan mata. Silahkan untuk membaca contoh soal ini sebagai bahan pengayaan bapak/ibu guru, sekaligus bahan perbandingannya. Jangan lupa untuk follow blog ini agar ada asupan semangat bagi saya. hehe... PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO KOORDINATOR WILAYAH KECAMATAN BIDANG PENDIDIKAN KECAMATAN SUBOH  SDN 4 GUNUNG MALANG  PENILAIAN TENGAH SEMESTER II    Tema / Subtema : 6. Menuju Masy. Sejahtera / 1. Masy. Peduli Lingkungan & 2. Membangun Masy. Sejahtera Kelas / Semester : VI / Genap Nama : ......................................................  Hari / Tanggal : Senin, 8 Maret 2021 Nilai : ......................................................  Waktu : 09.00 – 10.30 WIB Paraf Guru : ......................................................  I. Berilah tanda silang ( X ) pada huruf a, b, c, atau d sebagai jawaban yang benar !   1. Sebagai warga negara Indonesia yang baik kita harus peduli terhadap lingkungan. Yang tidak termasuk contoh sikap

Wajib Membuka Mata

Wajib Membuka Mata  Oleh : Aidi Kamil Baihaki  Pernah saya mendengar pertanyaan, “Bagaimana hukumnya shalat dengan memejamkan mata?” Ulama mempunyai pendapat beragam tentang memejamkan mata ini.  Menurut Imam Ahmad, hukumnya makruh.  Ibnul Qayim menjawab, memejamkan mata dalam shalat bukanlah petunjuk Nabi. Dalam artian, hal itu bukan sesuatu yang dianjurkan.  Ada pula ulama yang menghukumi boleh / mubah, misalnya untuk menghindari pemandangan yang menganggu hati, maka boleh saja shalat dengan memejamkan mata.  Sementara ... Nabi Muhammad SAW selalu membuka mata saat shalat, sehingga yang demikian itu dianggap sunnah.  Tapi bagiku, Shalat dengan mata terbuka adalah wajib! Terutama dalam shalat berjamaah. Sebab agar kita dapat mengikuti gerakan imam dengan tepat, kita harus memperhatikan gerakan imam, atau makmum lainnya yang melihat gerakan imam tersebut. Itu tentu saja harus dengan membuka mata.  Kenapa menjadi wajib?  Hehe... Itu pendapat untuk diri sendiri, lho.  Ada sebab musaba

Anugerah Keyakinan

Anugerah Keyakinan Oleh: Aidi Kamil Baihaki  Siang itu aku pulang lebih siang dari biasanya. Kudapati istri sedang tertidur pada alas tikar di lantai. Aku termangu.  Tanganku meraih buku tulis mengecek catatan yang biasanya ditulisi nomer handphone pembeli pulsa. Tidak ada satupun transakasi baru hari itu.  “Maafkan aku, Dik!” batinku.  Aku bekerja sebagai Guru Sukwan di Sekolah Dasar. Namun lebih tepatnya bukan bekerja, karena dari situ hampir tidak ada gaji. Hanya honor 250 ribu perbulan dari Pemkab yang ditransfer ke rekening pribadi setiap enam bulan sekali.  Untuk menyokong keperluan sehari-hari, kubuka konter kecil berjualan pulsa. Keuntungannya antara 1000-1500 pertransaksi. Pelanggannyapun hanya belasan orang tiap hari.  Akhir-akhir itu, lebih sering hanya 5 kali transaksi. Isteriku dalam kondisi hamil besar. Usia kandungannya sudah 8 bulan.  Sudah kusiapkan Rp,750.000 ditabungan. Sisa honor yang kuusahakan untuk tetap utuh hingga nanti dibutuhkan. Berjaga-jaga kelak akan ada k

Ternyata Tak Seberapa

Ternyata Tak Seberapa Oleh: Aidi Kamil Baihaki Sepupuku, Rina menangis meraung tak terkendali. Sesekali memukul-mukul lantai dengan keras. Nyaris lupa diri. Sebagian orang ikut menangis karena iba, sebagian lainnya berusaha menenangkannya, tapi tidak berhasil. Akhirnya kami biarkan dia melampiaskan emosinya sampai tuntas.  Sikap Rina tidak berlebihan. Memang tak mudah menerima kenyataan bahwa ibu yang sangat menyayangi dan begitu dekat dengannya tiba-tiba meninggal.  Rina pulang dari Pesantren karena ditelpon Ayahnya. Katanya, ada urusan keluarga yang sangat penting. Sementara Ayahnya masih dalam perjalanan pulang dari Tuban. Saat perempuan yang mereka kasihi dinaza’, mereka berdua sedang tidak disampingnya.  Sengaja Rina tidak diberitahu yang sebenarnya, dikuatirkan dia akan mengalami hal di luar dugaan selama perjalanan pulang sendirian dengan naik bus. Ibu Rina sebelumnya memang sakit, tapi tidak terlalu parah. Kondisinya tiba-tiba kritis dalam hitungan jam.  Tidak ada yang menyangk

Terganjar Doa Ajaib

Terganjar Doa Ajaib  Oleh: Aidi Kamil Baihaki  Lelaki itu duduk terbungkus sarungnya di kursi panjang yang tersedia di sisi jalan lorong masuk menuju deretan kamar perawatan Rumah Sakit.  Kursi panjang itu terletak di sana bukan untuk tujuan khusus. Mungkin sekedar memberi tempat untuk mereka yang bosan berada dalam kamar perawatan.  Aku baru saja dari Mushalla Rumah Sakit hendak menggantikan saudara ipar yang menunggui isteri di kamar pasien.  Sudah sejak adzan Maghrib tadi aku berada di Mushalla. Sudah waktunya untuk menggantikan.  Ketika sampai di lorong masuk aku melihat laki² itu. Sepertinya sudah lama dia di sana.  Entah kenapa aku malah ingin duduk pula di situ, lupa bahwa mungkin saja iparku sudah menunggu sejak tadi.  Dia nampak tidak tertarik untuk menoleh padaku. Sama sekali tidak terusik meskipun aku mengambil tempat di kursi panjang sebelahnya.  Aku hendak menyapa, tapi ragu. Kuatir malah mengganggunya.  Hampir sejam berlalu, kesepian membuatku memberanikan diri untuk meng

Mimpi Meila, Kenyataan Tina

Mimpi Meila, Kenyataan Tina  Oleh: Aidi Kamil Baihaki Sudah tiga kali Meila mengalami mimpi menakutkan. Tiga malam berturut-turut. Semua menakutkan. Mimpi itu seakan runtut seperti tayangan sinetron. Menghadirkan ketakutan bagi Meila, sebab bayangan hitam selalu menyergapnya ketika bersama Tina.  Walaupun itu hanya mimpi.  Tiga kali pula Tina gagal meyakinkan Meila bahwa mimpinya hanya bunga tidur, tidak ada makna sama sekali. Serupa juga kegagalan Meila untuk meyakinkan Tina bahwa mimpinya adalah sebuah firasat.  “Kita lihat saja, dalam seminggu ke depan. Jika tidak ada apa-apa, berarti pendapatku benar.” ujar Tina.  “Dan jika terjadi apa-apa, berarti kamu harus merubah pemahaman!” sergah Meila.  Tina mengangkat alisnya, dia yakin kelak kebenaran akan berada di pihaknya. Seulas senyumnya adalah jawaban persetujuan dan kesepakatan.  Tiga hari berikutnya mimpi itu tidak datang lagi, dan selama itu tidak ada kejadian apapun yang dapat dikaitkan dengan mimpi Meila.  Rupanya Meila harus j

Mantera Orang Lemah

Mantra Orang Lemah  Oleh: Aidi Kamil Baihaki.  Romli belum menuntaskan kantuknya saat terdengar ketukan dari pintu depan.  Beberapa kali mulutnya menguap dan menggerutu, memisuh karena suara itu.  Kantuknya berganti menjadi kepanikan saat ketukan berubah gedoran.  Sarung Romli dikalungkan begitu saja kemudian langsung berkelebat melompat ke lobang jendela yang setengah terbuka.  Lompatan sempurna, setidaknya karena lompatan itu tanpa rencana dan tanpa latihan sebelumnya.  Pagar samping rumahnya yang setinggi 1 setengah meter berhasil dilampauinya.  Tapi apes, belum lagi kakinya mendarat sempurna, lehernya sudah tertarik oleh lilitan sarung yang ujungnya nyantol di pagar bambu yang dilompatinya.  GUBRAAAK!  Romli meringis. Tubuhnya oleng menghantam pagar.  Cepat-cepat dia berdiri, sampai lupa untuk mengeluhkan sakit di kakinya yang berdarah tergores beling.  Baru saja hendak berlari...  “Buka, Baaang...! Cepat!” Suara yang akrab di telinganya berteriak dari depan pintu rumah..  Haddee