Ikhlas... Bersabar...
Oleh: Aidi Kamil Baihaki
Pak Mus menghubungi saya lewat chat pribadi Whatsapp, ‘Besok anda diminta datang ke Kantor UPTD Dikbudcam, Pak!’
‘Ada apa kira-kira, ya Pak?’
‘Anda diminta mendampingi dan melatih murid yang akan mengikuti lomba Olimpiade Sains tingkat kabupaten.’
‘Aduh, maaf Pak! Minta tolong, sampaikan bahwa saya menolak. Biarlah saya ke sekolah saja!’
‘Maaf, Pak. Saya hanya menyampaikan. Tapi akan saya beritahu Kepala UPTD bahwa anda menolak.’
Chat berhenti selama 1 jam. Lalu Pak Mus mengirimkan chat berikutnya, ‘Kalau boleh tahu, apa alasan penolakannya, Pak?’
Hmm... Saya tidak segera membalas.
Sebenarnya saya tidak terlalu antusias untuk menyatakannya. Sebab jika saya mengatakannya terus terang, pasti akan menimbulkan ketidaknyamanan.
Lima menit kemudian, pesan suara dari Pak Mus saya terima. “Tolong, Pak... Saya butuh alasan untuk disampaikan ke Pak Kepala.”
Yah, baiklah...
“Saya belum bisa menerima kenyataan, Pak. Sudah berbuat yang terbaik, memenuhi semua kewajiban, sudah berusaha berprestasi, tapi nyatanya tak ada apresiasi,” balas saya lewat pesan suara juga.
Pak Mus mengirim chat balasan, ‘Maksudnya, Pak?’ Di bawahnya ada emoticon kepala dengan wajah mendongak dan jari telunjuk memegang pelipis.
‘Pak Mus bisa menyebutkan, siapa guru teraktif di gugus kita?’ Tanya saya.
‘Tak ada yang lebih aktif dari anda, Pak.’
‘Baiklah, itu pengakuan anda. Bukan pengakuan saya. Dan sebenarnya saya memang berusaha melakukan semua kewajiban saya dengan baik. Saya jadikan prioritas!
Tapi nyatanya... Kenaikan pangkat saya terlambat. Padahal itu saja yang saya harapkan.’
Semenit kemudian.
Tiba-tiba layar berkedip. Ada panggilan masuk melalui aplikasi WA. Dari Pak Mus.
Saya menerima panggilan Pak Mus. “Apa, Pak?”
“Oh, jadi begitu alasannya? Apa boleh saya sampaikan apa adanya ke Kepala UPTD, Pak?”
“Silahkan!” Jawab saya menantang. Tapi sebenarnya saya tidak yakin bahwa Pak Mus akan menyampaikan alasan penolakan saya pada Pak Roni, Kepala UPTD Pendidikan dan Kebudayaan yang menaungi instansi tempat saya mengajar.
Telpon ditutup.
Ah, lega rasanya bisa membagi beban dengan orang lain. Walaupun mereka tidak menanggapi, tidak menampakkan simpati, apalagi memberikan saran solusi. Yang penting mereka sudah mau mendengarkan, itu sudah lebih dari cukup.
Seminggu kemudian, saya mengikuti rapat guru kelas 4 berkaitan dengan tekhnis pembuatan soal Penilaian Tengah Semester Ganjil.
Hadir pada saat itu Kepala UPTD kami. Dalam sambutannya, salah satunya beliau mengatakan, “Bapak – Ibu dalam bekerja jangan terlalu berpatokan pada imbal balik. Kerjakan tugas kita dengan ikhlas. Saya yakin, Tuhan akan memberikan kemudahan pada kita.”
Degh! Kalimat itu seperti membuat telinga saya menghangat.
“Jika Bapak – Ibu menolak suatu tugas dengan alasan pernah dikecewakan, berarti anda merawat dendam!”
Dugh!
Telinga saya seperti memerah. Tak bisa disangkal lagi, Bapak Kepala UPTD ini pasti sedang menyerempet saya, walaupun beliau sama sekali tidak pernah menatap saya.
Rupanya Pak Mus benar-benar menyampaikannya pada beliau. Bagus lah!
Ah, kalau sekedar berteori saya juga bisa! Bisik saya dalam hati.
Bagaimana tidak kecewa... Saya sudah mengirim 3 bendel berkas untuk mengajukan kenaikan pangkat.
Sebulan setelahnya, saya tanyakan pada Pak Pengawas tentang perkembangannya. Beliau menjawab, “Sabar Pak, masih proses!”
Sebulan berikutnya saya tanyakan lagi, jawabannya masih mirip; bersabar.
Sebulan berikutnya saya bertanya lagi, jawaban sudah mulai berubah; nanti saya kabari.
Hampir tiap bulan saya tanyakan. Kira-kira hingga lima kali, jawabannya sama sekali tidak kunjung membuat bahagia.
Akhirnya saya bosan. Ah, terserahlah!
Tapi iseng juga saya tanyakan pada Kepala UPTD Dikbudcam Jawabannya tidak lebih baik; “Telat naik pangkat itu biasa, Pak. Setahun... Dua tahun... Malah saya sendiri sudah lebih 2 tahun!” ujarnya berusaha menenangkan.
Beliau tidak tahu bahwa ketenangan itu minimal bisa dihadirkan melalui janji atau iming-iming; Insha Allah bulan depan sudah ada kabar, Pak... Atau sejenisnya. Bukan menyuruh sabar! Toh, sabar tidak mau disuruh-suruh tanpa upah. Hehe...
Persis pada tahun kedua sejak saya mengajukan kenaikan pangkat itu, Pengawas TK-SD kecamatan tempat saya berdinas mendapat promosi ke lain kecamatan. Beliau pindah kantor.
Bapak Kepala Sekolah saya yang ikut membantu merapikan berkas-berkas yang akan dibawa boyongan, mendapati berkas saya ada dalam lemari Pak Pengawas, pada tumpukan agak paling bawah. Persis rangkap 3.
Bapak Kepala Sekolah mengambilkannya untuk saya.
Astaghfirullah al-adhim...
Bersabarlah! Ikhlaslah!
Anda tidak tahu betapa sakit hati ini.
Saya rela menerima nasib; telat naik pangkat, asal sudah melalui prosedur semestinya. Bukan ketelatan karena mandeknya berkas di Kantor UPTD Dikbudcam.
Komentar
Posting Komentar